Ads 468x60px

Selasa, 07 Juni 2011

Polis lerai pergaduhan ratusan pekerja Vietnam, Bangladesh

NILAI: Sekurang-kurangnya 400 pekerja asing warga Vietnam dan Bangladesh bergaduh sesama sendiri di asrama sebuah kilang di Taman Semarak, Nilai, kira-kira jam 11 malam tadi. 

Bagaimanapun tindakan pantas polis menutup laluan ke asrama itu berjaya mengelakkan kejadian lebih buruk apabila dapat menghalang beberapa kumpulan lain yang dianggarkan seramai 1,500 daripada menyertai pergaduhan itu.

Kebanyakan pekerja asing terbabit bersenjatakan kayu dan batang besi selain batu.
Pergaduhan itu berjaya dileraikan dengan campur tangan anggota polis dan Pasukan Simpanan Persekutuan (FRU) yang memisahkan kedua-dua kumpulan itu. 

Beberapa pekerja daripada kedua-dua kumpulan terbabit mengalami kecederaan pada kepala namun hingga kini difahamkan tiada kematian. 

Beberapa pekerja tempatan mendakwa banyak kemudahan di dalam kawasan asrama termasuk katil, cermin dan pintu dipecahkan pekerja asing terbabit ketika pergaduhan itu. 

Kejadian itu turut menyebabkan polis mengarahkan penduduk berhampiran supaya tidak keluar rumah bagi mengelakkan kejadian tidak diingini. 
Berikutan kejadian itu polis terpaksa berkawal di kawasan itu sejak malam tadi hingga sekarang. 
Reade more >>

Politics of Distraction

Semua kita –terutama penggemar sinema- masih ingat dengan sebuah film produksi Hollywood dengan judul Gladiator. Sebuah film heroik yang menggambarkan kejayaan Kekaisaran Roma sebagai penguasa Eropa, Asia Tengah dan Afrika. Dikisahkan seorang Jenderal perang Kekaisaran Roma yang dikhianati Kaisar Muda Commodus yang membunuh ayahnya Kaisar Markus. Cerita pun berlanjut di sebuah Colosseum tempat bertarungnya para musuh-musuh Kekaisaran dengan binatang dan para Gladiator.

Tulisan ini tentu saja tidak dimaksudkan untuk menceritakan bagaimana Russel Crowe yang memerankan Jenderal Maximus yang menjadi Gladiator yang berhasil membunuh Kaisar Commodus secara kesatria. Bukan pula ingin menceritakan keahlian bertarung Jenderal Maximus atau perilaku aneh sang Kaisar Muda. Yang menarik dalam cerita ini adalah bagaimana Kekaisaran Roma membangun sebuah bangunan yang dikenal dengan Colosseum. Sebuah bangunan tempat bertarungnya para gladiator, binatang buas dan para musuh kekaisaran. Sebuah tempat bertarung dan meregang nyawa para kesatria-kesatria musuh atau orang-orang biasa yang dianggap membahayakan kekuasaan kaisar.

Colosseum yang dibangun oleh Kekaisaran Roma tersebut kini menjadi sebuah situs sejarah kebanggaan yang terletak di Italia, malah menjadi simbol sejarah penting peradaban dunia. Tapi sadarkah kita, pendirian dan pertarungan yang terjadi di Colosseum tersebut mengandung sarat makna politik? Bukan hanya sebagai arena hiburannyeleneh sang Kaisar, atau pun wahana pembasmian musuh-musuh kekaisaran.

Colloseum merupakan sebuah simbol politik pengalihan (Politic of Distraction) yang sengaja diciptakan, sebagai alat propaganda penting bagi rakyat. Colloseum menjadi sebuah arena hiburan yang menyedot perhatian rakyat, sehingga lupa dengan persoalan, kelemahan, tuntutan dan ancaman-ancaman yang dianggap membahayakan kekuasaan. Hiburan sadis yang ditampilkan oleh Kaisar menjadi terbukti efektif, karena Colosseum dijadikan sebagai simbol kebesaran, kemegahan dan superioritas bangsa Roma atas bangsa-bangsa jajahannya. Rakyat diberi sebuah tontonan yang luar biasa sadis, dibumbui dengan retorika-retorika dan bukti-bukti keagungan sang Kaisar dan rendahnya posisi lawan. Siapapun yang hidup pada zaman itu, pasti akan kagum, bangga, dan histeris dengan kemampuan, kecerdasan dan keagungan Kaisar beserta Pasukan Romawi yang gagah berani. Siapapun yang menyaksikan tragedi-tragedi sadis yang ditampilkan akan terkesima, bahkan lupa dengan persoalan-persoalan bangsa yang carut-marut, tidak bermoral, rapuh diambang kehancuran akibat kemiskinan dan semakin lemahnya sistem kehidupan berbangsa.

Hal yang sama terjadi ribuan tahun setelah bangsa Roma mendirikan Colosseum. Namun kini bukan lagi dalam bentuk bangunan megah yang menampilkan kebrutalan dan kesadisan yang saat ini kita anggap tidak bermoral, tetapi dalam format yang sangat halus, sistematis, dan memanfaatkan media massa sebagai instrumen terpenting. Colloseum merupakan sebuah simbol yang menyedot perhatian dan partisipasi rakyat sehingga lupa dengan persoalan-persoalan dihadapi bangsa Romawi yang pada saat itu dalam bahaya perpecahan, kemiskinan, ketidakpercayaan dan carut-marutnya sistem sosial. Kini hal yang tak jauh berbeda terjadi. Perhatian rakyat disedot oleh peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa yang menjauhkan kita dari substansi persoalan bangsa yang kini sedang dihadapi. Pikiran dan seluruh indera kita dipaksa untuk berkomentar, marah, senang, frustasi dan khawatir dengan drama yang ditampilkan oleh penguasa melalui media-media kita. Kita lupa, beralih atau memalingkan kepala kita untuk memperhatikan sesuatu yang secara inderawi dan moralitas memancing reaksi emosi dan rasio kita. Apalagi sesuatu yang mengalihkan tersebut sangat dekat dengan aspek-aspek tertentu yang secara psikologis dan Sosiologis sangat kita butuhkan.

Secara sadar, penguasa membangun sebuah arena dimana kita akan tersedot di dalamnya, sehingga terlupa dengan urgent nya persoalan yang sedang kita hadapi. Logika kekuasaan adalah, dinamika bangsa harus menyentuh persoalan-persoalan permukaan atau polemik non substantif sehingga mendorong sebuah perubahan evolutif. Rakyat diberi ruang dan arena, bahkan didorong untuk bermain-main di lingkaran terluar dari dinamika sosial politik, karena dinamika tersebut menjadi sumber perubahan yang tak mengobrak-abrik basis berdiri dan tegaknya sebuah bangsa. Pergolakan, ataupun sentuhan se kecil apapun yang terkait dengan fundamental eksistensi bangsa adalah sesuatu yang harus dihindari, sehingga tidak meruntuhkan struktur utama negara.  Penghindaran terhadap sisi utama organisme bangsa harus dijalankan, salah satunya adalah menciptakan drama-drama menarik dan menyentuh aspek terpenting kehidupan rakyat.

Lihat saja bagaimana dinamika seluruh bangsa di dunia ini, termasuk di Indonesia. Jika kita mundur ke belakang sejenak, dan menengok dinamika sejarah bangsa, kita akan tersadar, bahwasannya politik pengalihan merupakan bumbu yang selalu mewarnai dinamika politik bangsa. Coba saja analisis secara sederhana terhadap tragedi-tragedi dan drama-drama politik, sosial dan budaya yang terjadi belakangan ini. Tidak ada sebuah kasus atau peristiwa besar yang berdiri sendiri pada sebuah massa. Kita akan menemukan gandengan drama lainnya yang biasanya lebih menarik, menyedot perhatian dan yang pasti, sangat menyentuh aspek sosiopsikologis rakyat.

Cara, strategi dan skenario pengalihan tersebut terbukti sangat efektif. Berulang kali kekuasaan menggunakannya, berulang kali pula drama dan peristiwa tersebut berhasil mengalihkan pandangan kita. Layaknya ikan di kolam, kita tak bosan-bosanyna berulang kali memakan umpan pemancing, begitu pula rakyat yang tak tak jenuh-jenuh dipancing dengan isu, peristiwa dan tragedi-tragedi pengalih.

Dalam perspektif Sosiologis, Lewis Coser, seorang pakar konflik juga memiliki pandangan yang mirip dengan politik distraksi ala Colosseum Kaisar Roma. Ia memperkenalkan sebuah konsep bernama Katup Penyelamat (Safety Valve). Katup penyelamat merupakan sebuah institusi yang mengimbangi sebuah kegagalan, atau masalah yang menimpa sebuah sistem sosial. Sistem sosial dianggap sebagai sebuah kumpulan sub sistem atau komponen yang fungsional satu sama lainnya. Kegagalan fungsi pada sebuah sistem biasanya akan menimbulkan instabilitas terhadap sistem tersebut. Agar ketidakstabilan sistem tersebut tidak menimbulkan pergolakan lebih besar, maka secara sistem akan memproduksi sebuah sub sistem baru yang bisa menyelamatkan keseimbangan sistem. Sub sistem baru tersebut ibaratnya sebuah kasur empuk tempat kegagalan fungsional bisa jatuh secara lebih lunak, sehingga tidak meretakkan sistem secara keseluruhan. Sub sistem tersebut biasanya berakar dari basis sub sistem tradisional yang cenderung dianggap irrasional dalam sebuah peradaban modern. Dikarenakan bersifat irasional, sub sistem tersebut terkadang hanya bersifat temporal, hanya untuk kepentingan menyelamatkan stabilitas atau keseimbangan sistem sosial.

Secara psikologis, distraksi malah terkadang menjadi sebuah hal yang positif bagi individu. Perspektif psikologis merekomendasikan kepada seorang individu untuk membuat sebuah distraksi tatkala ingin mencapai sesuatu yang berada di luar tujuan utama. Distraksi diangap sebagai sebuah strategi positif dalam rangka mencapai sesuatu yang lain disamping tujuan awal yang menjadi fokus utama. Tentu saja perspektif mikro tersebut sangat berbau paradigma pengetahuan positivistik yang berusaha membangun keseimbangan sistem makro dan mikro sebagai alas terpenting analisis sosial.

Persoalannya tidak se sederhana di level micro psikologis. Keseimbangan sistem terkadang menjadi basis instrumen kekuasaan yang menolak perubahan struktural. Kecenderungan kekuasan yang mempertahankan order rejim memiliki logika yang tak jauh berbeda dimanapun, sehingga menggunakan distraksi sebagai upaya menjauhkan gerak perubahan dari inti persoalan struktur. Struktur sosial dan politik erat kaitannya dengan penguasaan sebuah golongan terhadap golongan masyarakat yang lemah, sehingga dinamika yang terjadi di dalamnya menjadi kondisi yang tak mungkin dihindari dalam rangka perubahan sistem yang lebih baik. Jika distraksi hanya terjadi di level individu, maka tak berakibat massif sehingga distraksi menjadi instrumen penting dalam rangka mencapai tujuan. Ketika diterapkan dalam struktur sosial yang lebih besar, maka akan tercipta sebuah stagnasi yang cenderung mengabadikan status quo yang belum tentu adil bagi golongan masyarakat lain.

Penggunaan politik distraksi atau Savety valve yang merupakan warisan kuno penguasa memang tak pernah lekang oleh waktu, malah menjadi praktik-praktik politik modern yang tumbuh subur dalam sebuah alam demokrasi. Kecenderungan kekuasaan adalah mempertahankan order system agar tetap stabil. Walau membuka peluang perubahan, namun diupayakan tak akan merubah fundamen sistem yang akan mengancam kekuasaan. Tinggal bagaimana rakyat tak terbuai untuk terus bisa fokus dengan arah perubahan yang diharapkan. Hanya satu cara untuk itu, yakni menjadi warga bangsa yang cerdas dan kritis terhadap buaian, pengalihan maupun sadar akan harapan menuju perubahan sistem yang lebih baik.
 

Tua Hasiholan Hutabarat
http://www.forumsains.com/artikel/politics-of-distraction/
Reade more >>

Apakah teknik radiokarbon dapat digunakan untuk mengetahui umur apa saja?

Teknik ini tidak akan menolong kita jika yang ingin kita ketahui umurnya masih hidup, misalnya teman mengobrol kita lewat internet yang mengaku 25 tahun. Penentuan umur menggunakan teknik radiokarbon (radiocarbon dating) berguna untuk menentukan umur tumbuhan atau sisa hewan yang mati sekitar lima ratus hingga lima puluh ribu tahun lampau.

Sejak ditemukan oleh gurubesar kimia University of Chicago, Willard F. Libby (1908-1980) sekitar tahun 1950-an (ia menerima Hadiah Nobel untuk penemuan tersebut pada tahun 1960), teknik radiokarbon telah menjadi perkakas riset sangat ampuh dalam arkeologi, oseanografi, dan beberapa cabang ilmu lainnya. Agar teknik radiokarbon dapat memberitahu umur sebuah objek, objek tersebut harus mengandung carbon organic, yakni karbon yang pernah menjadi bagian dalam tubuh tumbuhan atau hewan. Metoderadiocarbon dating memberitahu kita berapa lama yang lalu suatu tumbuhan atau hewan hidup, atau lebih tepat, berapa lama yang lalu tumbuhan atau hewan itu mati.

Uji radiocarbon dapat dilakukan terhadap bahan-bahan seperti kayu, tulang, arang dari perapian perkemahan atau gua purba, atau bahkan kain linen yang digunakan untuk membungkus mummi, karena kain linen itu terbuat dari serat tanaman flax. Karbon adalah salah satu unsur kimia yang dikandung oleh setiap makhluk hidup dalam bentuk macam-macam bahan biokimia, dalam protein, karbohidrat, lipid, hormone, enzim, dsb. Sesungguhnya, ilmu kimia yang mempelajari bahan kimia berbasis karbon disebut “kimia organik” karena dahulu orang yakin bahwa satu-satunya tempat bagi bahan kimia ini adalah makhluk hidup. Kini, orang tahu bahwa kita dapat membuat segala macam bahan kimia organik berbasis karbon dari minyak bumi tanpa harus mengambil dari tumbuhan atau hewan.

Tetapi, karbon dalam makhluk hidup berbeda dalam satu hal penting dari karbon dalam bahan-bahan bukan makhluk hidup seperti batu bara, minyak bumi, dan mineral. Karbon “hidup” mengandung sejumlah kecil atm karbon jenis tertentu yang disebut karbon-14, sedangkan karbon”mati” hanya mengandung atom-atom karbon-12 dan karbon-13. Ketiga macam atom-atom karbon berbeda itu disebut isotop-isotop karbon; mereka semua mempunyai perilaku sama secara kimiawi, tetapi mempunyai berat yang berbeda-beda, atau lebih tepat, mempunyai massa berbeda-beda.

Yang unik seputar karbon-14, disamping massanya, adalah karena mereka radioaktif. Yakni, mereka tidak stabil dan cenderung melapuk, terpecah sambil menembakkan partikel-partikel subatom: disebut partikel-partikel beta. Dengan demikian semua makhluk hidup sebetulnya bersifat radioaktif, meskipun sedikit, yaitu karena memiliki karbon-14. Betul termasuk anda dan saya, kita semua radioaktif. Orang dengan berat 68 kg mengandung sekitar sejuta miliar atom karbon-14 yang menembakkan 200.000 partikel beta setiap menit!!
Reade more >>

Tembakau untuk Penderita Diabetes

Bidang pertanian saat ini menghasilkan perkembangan bioteknologi molekular yang pesat, yang dapat menawarkan cara yang lebih murah daripada pembuatan vaksin dan obat tradisional melalui pabrik. Para ilmuwan telah menemukan tembakau yang menyehatkan setelah memodifikasi faktor genetiknya. Tembakau ini dapat digunakan untuk mengobati diabetes tipe 1.

Peneliti Eropa mengatakan telah menghasilkan tembakau yang mengandung senyawa anti-inflamasi (anti-peradangan) yang disebutinterleukin-10 (IL-10) yang dapat membantu pasien diabetes tipe 1 yang masih menggantungkan insulin. Sejumlah perusahaan kimia pertanian, termasuk Bayer dan Syngenta, telah mencari cara untuk membuat kompleks protein dalam tanaman obat-obatan, meskipun membutuhkan proses yang lambat.

Pada saat ini, kebanyakan obat-obatan dan vaksin diproduksi melalui kultur sel dan kultur jaringan. Namun, Mario Pezzotti dari Universitas Verona, yang memimpin studi tentang tembakau yang diterbitkan dalam jurnal BMC Biotechnology, percaya bahwa tembakau tumbuh lebih efisien semenjak tanaman dunia memiliki biaya rendah untuk menghasilkan protein obat.

Berbagai jenis tanaman telah dipelajari oleh sejumlah ilmuwan di seluruh dunia, tetapi tembakau merupakan tanaman yang paling digemari dalam hal riset. "Tembakau adalah tanaman yang fantastis karena mudah mentransformasi genetik dan dengan mudah dapat mempelajari seluruh tanaman dari satu sel," ungkap Pezzotti. Kelompoknya bekerja dan menaruh minat terhadap tembakau raksasa, yaitu Philip Morris, yang mendukung konferensi tanaman berbasis obat di Verona pada bulan Juni.

Pezzotti dan koleganya - yang menerima dana untuk penelitiannya dari Uni Eropa - sekarang berencana untuk megujicobakan tanaman tersebut ke tikus yang memiliki penyakit autoimmune untuk mengetahui responnya.

Selanjutnya, mereka ingin menguji apakah pengulangan dosis kecil dapat membantu mencegah penyakit kencing manis pada orang, ketika diberikan bersamaan dengan senyawa lain yaitu glutamic acid decarboxylase (GAD65), yang juga telah diproduksi di tanaman tembakau.

Diamyd, perusahaan bioteknologi di Swedia sudah menguji secara konvensional vaksin GAD65 terhadap penderita diabetes dalam masa uji coba klinis. Bidang pertanian molekuler belum menghasilkan produk komersial pertama, walaupun Israel Protalix BioTherapeutics telah melakukan uji klinis lanjutan pada enzim untuk pengobatan penyakit Gaucher yang dihasilkan melalui kultur sel wortel. Protalix rencana untuk mengirimkan obatnya untuk persetujuan dari Amerika Serikat dan Israel.
http://www.forumsains.com/artikel/tembakau-untuk-penderita-diabetes/
Reade more >>

jam